Surat Buat Mahasiswaku

Mahasiswaku
Hari ini jauh dari sudut hatiku,
terhentak rasa yang sulit kuungkap,
ingin kutangkap semua keluh kesahmu terhadapku
ingin kutafsirkan dalam naluri jiwaku rasa seorang guru
yang dalam kacamata sang pengejar cita aku bukanlah guru
yang kau bangga menata hari meramu jari mengejar mimpi
beribu rasa menari di pelantar asaku
terus mencari jalan untuk membuatmu bangga
Mahasiswaku
Meski waktu terus mengejarku
Namun dibenakku perlu engkau tau
Senyumanmu semua selalu memanggilku
Untuk kita selalu bertemu
Bisa berbagi ilmu
Meski ada darimu menganggapku hantu
Yang membawa setumpuk tugas menghalangi bebasmu
Dari kesenangan waktu yang lepas
Meski ada darimu menganggapku
Tidak professional karena candaku kau anggap cara bebal
Memotivasi bukanlah hal yang kau cari
Mahasiswaku
Terimakasih
kekesalanmu t’lah kau ungkap jujur padaku
Bahwa kau sangat membenciku saat ini
Karena aku kenyamananmu terusik
Diburu tugas yang ta pernah tuntas
Terimakasih
Kebencianmu t’lah kau tulis dalam rangkaian kata
Bahwa kau tidak mendapatkan ilmu seperti apa
Yang kau pinta membuatmu semakin meraba
Tiada arah yang berpetuah
Mahasiswaku
Terlepas dari itu
Aku sangat menyayangi
dan ingin memberikan yang terindah
dalam rangkaian kenangan studimu di sini
melangkah bersama dalam suka maupun duka
duduk dalam tenang berdiri dalam senang
berlari dengan kencang
mengejar mimpi yang sudah terpatri
Mahasiswaku
Wajahmu yang lugu pertama kita bertemu
Membuatku malu jika aku tidak mampu
Menjadikanmu manusia bermutu
Merubah dunia berawal dari
Kau bersamaku
Mahasiswaku
Demimu
Aku akan sabar
Aku akan tegar
Aku akan tetap berjuang
Meski banyak yang kau dengar tentangku
Hingga mempengaruhi persepsimu tentangku
Mahasiswaku
Suatu hari nanti akan tiba waktunya
Saat kita tidak lagi bersama
Saat kita tidak lagi bercengkrama
Saat kita tidak lagi bisa bercanda
Saatnya waktu adalah emas
Yang menjadi tembok pembatas antara kita
Maka saat itu
Kekesalanmu
Kebencianmu
Amarahmu
Kekecewaanmu
Harapku
Semua
Akan menjadi kerinduan
Meski saat itu senyuman itu
Tidaklah sama
Dengan senyumanmu
hari ini
(Surat balasan buat mahasiswaku, Tanjungpinang, 13 April 2018)

 

JIKA INI YANG KAU MAU

Siang itu, terik cuaca menyapa warna yang tak indah untuk ku tatapi.
Silaunya mengintip ke ruang hati bersinar hingga singgah di sebuah bola mata.
Yang mengalir mengungkap amarah yang terpendam.
Beribu duka terpancar terungkap dalam dekapan yang hangat entah kenapa tercurah tanpa basa basi.
Langkah demi langkah berlalu satu satu bersatu entah mau dibawa kemana, entah itu rasa apa.
Tatapanku jauh ingin ku hadirkan senyum bahagia untuknya,
meski tangan tak berdaya karena terpaku oleh hati yang akan banyak tertoreh pedih.
Awan yang tadi menggumpal jauh kini berlari kecil entah mengapa perlahan menghampiri meski bukan ini yang kuminta. Andai kupunya sejuta tangan kan kugapai semua asa yang kini tak mungkin ku genggam erat untuk memeluknya.
Ternyata semua salah alamat hingga ku tersesat dalam kebutaan entah mana hati yang sungguh-sungguh ingin kehadiranku memberi warna yang indah baginya.
Kelelahanku ternyata semu karena tak berujung bahagia karena baginya aku bukanlah siapa-siapa.
Andai ini adalah kasih sayang yang kau kenal, suatu masa kau akan kembali mencari-carinya.
Andai ini adalah bukan apa-apa maka suatu hari kau akan kehabisan waktu ingin menjadikannya sesuatu yang paling berharga.
Hari ini biarlah kubawa semua duka ke dalam sebuah pulau di penghujung masa,
yang tak kan ku ingat lagi untuk sebuah nama yang akan kutancap dalam kubangan hantu sedalam lautnya biru.
Kan kutenggelamkan semua mimpi bersamanya
hingga tak kan ada satu orangpun yang tau
betapa hancurnya keindahan rasa bersama menghilangnya sebuah kasih sayang
yang tak berujung
meski dunia berteriak menangisi air mata darah
tak kan pernah aku hadir lagi disini untuknya.
(bintan islands. 28.3.2018)

 

Anakku Kerinduanku

Anakku
Airmatamu ibarat gunung runtuh yang menghimpitku
Berat sangatlah berat aku karenanya
Langkah-langkahku akan terhenti sejenak meski
penghujung jalan hampir kutatap
bersamamu senyumanmu dan mimpimu
Meski waktuku hanya hitungan detik
Yang berlalu begitu cepat
Tanpa keindahan sempat kuukir di matamu yang selalu menanti
Sayangku
Kerinduanku, harapanku, tetesan keringatku,
Genggaman kedua tanganku, langkah-langkah kakiku
Senyumku, tangisku, dan semua asaku
Smua itu kuarahkan padamu
Meski sulit untukmu pahami saat ini
Ketika ada tamparan kata yang menghantam ketenanganmu
Akulah yang pertama paling membencinya
Ketika ada tamparan kasih yang menipu hatimu
Akulah yang pertama paling mengutuknya
Ketika ada hembusan hasut yang menggoyang ruang dengarmu
Maka akulah yang akan mengusirnya
Karena aku sangat sayang padamu
Sayangku
Kau kejarlah matahari itu
Meski semakin dekat semakin membara karena panasnya
Meski telapak kakimu penuh darah teriris luka oleh kerikil-kerikil tajam
Meski hatimu penuh memar bekas kesedihan yang selalu membayangi kebahagiaanmu
Sayangku
Aku ada dan selalu ada untukmu
Meski jarak kadang selalu membuat kita menahan rindu
Yang ingin melepas smua rasa dan memelukku bisikmu padaku
Sayangku
Aku menantimu berdiri di gerbang asamu
Kan kulihat tanganmu menggenggam sebuah cinta dan cita
Yang mengalirkan dari sudut matamu
airmata kebahagianmu
dan juga kebahagiaanku
(Bekasi, 5 april 2018: Teruntuk anakku Sayyidah Nur Habibah)