Terimakasih Asesor

SERDOS_KH 2015Meski terkadang semangat bekerja menurun mengingat hampir sepuluh tahun aku berkiprah di sini tetapi masih saja “berjalan di tempat” rasanya. Kegundahan ini kadang berlalu ketika aku bisa eksis mengembangkan potensiku dan justru mendapat penghargaan dan merasa lebih dihargai dari orang luar. Terasa puas ketika yang menghargaiku justru mereka menilai secara objektif dan profesional, ditambah lagi mereka semua berasal dari kelompok orang-orang yang benar-benar profesional.
Aku menjadi terhibur dan lebih bersemangat ketika mendapatkan penghargaan itu melalui berbagai tantangan dan kesulitan yang pada akhirnya berbuah manis. Masih ingat saat itu betapa mereka dengan mudah melengkapi portofolio yang memberi penghargaan pada diri sendiri karena mereka memiliki wewenang untuk itu. Begitu mudah pula mereka melaluinya dan mendapatkan apa yang menjadi keinginan mereka. Meski terkadang merasa ini tidak adil tetapi aku harus bisa menjadi penonton yang baik untuk kebahagiaan mereka. Teringat betapa sedihnya aku yang saat itu sedang studi dengan banyak urusan terjungkal dan harus bisa ikhlas menerimanya. Meski saat ini aku belumlah selapang mereka saat itu seperti yang kulihat tetapi aku saat ini sedikit terobati karena sesungguhnya setiap orang punya potensi, begitu juga dengan diriku.
Kegundaahan itu kucoba deskriptifkan melalui deskripsi diriku, ternyata mendapat komentar asesor yang benar-benar menyemangatiku. “DOSEN YANG BERPOTENSI, DAPAT MEMBAWA KEMAJUAN INSTITUSI DAN MASYARAKAT”
Terimakasih kepada bapak/ibu asesor – meski aku belum pernah mengenalmu.
Tetapi dapatkah aku mewujudkan pernyataan itu ” disini” …Hanya dengan satu tindakan saja yang menurutku sangat membangun institusi, perbuatanku sudah dianggap kontroversial. Dalam perkuliahan di kelas selalu saja kuingatkan kepada mahasiswaku agar tidak melakukan ” plagiat” tetapi ketika mereka lepas dari bimbinganku saat skripsi tetap saja mereka mendapat dukungan dari pihak lain. Ketika aku tidak memberikan nilai mereka karena perbuatan plagiatnya mendekati 80% tetap saja mereka diloloskan tanpa menunggu kehadiranku di ruang ujian. Sesungguhnya aku sangat senang kerja tim tetapi tim yang tetap menjaga konsistensi dan kompetensi. Karena menjadi dosen dan pembimbing adalah amanah, sehingga mendidik mereka menjadi manusia yang jujur dan bertanggung jawab adalah wajib bagi seorang dosen. Menciptakan mereka sarjana yang berkompeten adalah sebuah tanggung jawab yang besar, karena jika hanya sebuah gelar dan wisuda yang mereka kejar itu adalah kekeliruan yang besar. Aku bukanlah manusia super tetapi aku masih punya mimpi memajukan institusiku dimulai dari diriku sendiri yang konsisten dan kompeten menjalankan tugas dan tanggungjawabku sebagai dosen. Meski banyak krikil dalam langkahku aku mencoba menyusun krikil itu untuk penguat hatiku. Aku bekerja adalah ibadah bagiku, sedangkan rejeki dan karir adalah urusan Allah. Yang terpenting aku tetap berada di jalan yang diredhoi Allah dan inilah doa dan harapanku.